Apa yang terjadi jika cinta tak lagi indah dan menyakitkan? Perlahan tapi pasti umat manusia pasti akan musnah. Walaupun wujud fisiknya manusia namun tanpa cinta manusia tidak dapat disebut lagi manusia. Tanpa cinta, hidup menjadi hampa, kering, dan tidak bermakna. Tiada lagi jalinan kasih sayang antara oran tua dan anak, antara suami istri, antara sepasang kekasih, dan sebagainya. Perjalanan waktu benar-benar kehilangan makna. Tanpa cinta manusia akan mati perlahan.
Bayangkan, hanya satu dari seratus bagian kasih sayang yang Allah swt turunkan ke bumi , efeknya sudah demikian dahsyat. Sejak zaman Nabi Adam as hingga sekarang, bahkan hingga kiamat nanti yang satu bagian ini telah menjadikan hidup manusia penuh warna, sarat cerita dan luar biasa.
Mari kita menukik lebih dalam lagi. Secara biologis, cinta dan kasih sayang yang ada dalam diri manusia dikendalikan oleh senyawa-senyawa kimia tertentu. Senyawa-senyawa ini merupakan bagian dari sistem hormonal tubuh. Dengan kata lain, cinta adalah “permainan” hormon-hormon atau senyawa kimia tertentu. Inilah mekanise canggih yang llah ciptakan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia.
Seperti apa prosesnya? Kita lihat salah satu contoh, yaitu cinta pada lawan jenis. Dilihat dari sistem kerja tubuh manusia jatuh cinta alias kasmaran bukanlah sebuah proses sederhana. Ada banyak sistem canggih yang terlibat di dalamnya. Sejatinya, bahwa dalam diri orang tengah kasmaran mengalir senyawa-senyawa kimia tertentu. Rangsangan yang datang dari luar, entah itu bau tubuh sang kekasih (pasti ulah feromon), tatapan mata, untaian kata-kata hingga postur tubuh yang terindra, akan merangsang otak untuk memproduksi sejumlah senyawa kimia lalu menjalarkannya ke sistem syaraf melalui peredaran darah. Tak heran jika orang yang tengah kasmaran, secara fisik dan psikologis mengalami perubahan drastis, muka memerah, salah tingkah hilang konsentrasi, sulit berpikir logis, jantung berdebar, nafas tak beraturan, terlena, keringatan, curi-curi pandang tersenyum malu, dan yang semisalnya.
Ketika panah asmara telah menghujam di dada, otak akan segera bereaksi dengan memproduksi senyawa peniletilemine (PEA), dopamin, dan norepineprin, lalu menyebarkannya ke seluruh tubuh. Apa yang terjadi? Rasa bahagia pun membuncah di dalam dada. Semuanya menjadi indah. Ketika seseorang memandang kekasih hatinya, dopamin akan membuat bagian ventral tegmental dan caudate nucleus di otak menyala. Dalam dosis tepat, dopamin menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat. Serta dorongan yang kuat untuk memberikan imbalan. Ada yang berpendapat jatuh cinta mengaktifkan “pusat kenikmatan” di otak hingga membuat orang merasa senang. Dari ketiga senyawa tersebut, senyawa PEA lah yang paling bertanggung jawab dalam menimbulkan gairah dan rangsangan seksual. Maka jangan heran, orang yang sedang jatuh cinta biasanya terlihat sumringah, hatinya berbunga-bunga, tiada yang dipikirkan selain si dia, enerjik, bahkan cenderung melakukan aktivitas seksual. Tentu dengan catatan, cintanya adalah cinta yang berbalas
Jika tahap ini dapat dipertahankan , maka muncullah tahap pengikatan, sebab trio cinta tadi: PEA, dopamin dan norepineprin, akan mengundang temannya yang bernama endorfin. Kerja endorfin itu mirip morfin yang diberikan pada tubuh manusia. Salah satu tugasnya adalah memberikan rasa aman, nyaman, tenang, dan damai ketika dekat dengan sang pujaan hati.
Endorfin tidak meluap-luap dan seekstrim PEA. Ia jauh lebih stabil namun lebih adiktif. Kehadirannya menjadikan kedua insan jadi makin dekat, lengket dan bertahan lebih lama. Karena itu tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan cinta itu bagai candu. Memang benar. Cinta akan membuat seseorang ketagihan. Itulah efek endorfin dan kawan-kawannya.
Itulah gambaran terkait mekanisme tubuh dalam merespon rasa cinta dan kasih sayang. Bagi kita, ini adalah ujian. Bersyukur atau kufur?
(di sadur dari elfata, edisi 09 volume 07 tahun 2007)


0 komentar:
Posting Komentar